Ticker

6/recent/ticker-posts

Gaza Dua Tahun: Trauma, Kehilangan, dan Perubahan Batin Warga Palestina




 ​

​Dua tahun telah berlalu sejak konflik terbaru melanda Jalur Gaza, namun waktu tidak serta-merta membawa kesembuhan. Bagi hampir 2,3 juta penduduk Gaza yang hidup di bawah bayang-bayang kehancuran, periode ini bukan sekadar hitungan waktu, melainkan penanda perubahan mendalam dalam jiwa, mental, dan cara mereka memandang kehidupan. Perang, kehilangan orang-orang tercinta, dan kehancuran masif telah menempa masyarakat ini, mengubah mereka menjadi individu yang dibentuk oleh trauma kronis dan ketangguhan yang luar biasa.

Kesehatan Mental yang Runtuh Akibat Trauma Kronis

​Perubahan yang paling mencolok dan menyakitkan adalah dampak psikologis. Dua tahun ini telah memupuk trauma kronis yang meluas, bahkan di kalangan anak-anak. Warga Gaza terus-menerus terpapar pada kekerasan, suara ledakan, dan menyaksikan kerabat atau tetangga mereka terbunuh atau terluka. Ini menghasilkan gejala yang meluas di masyarakat:

​Gangguan Kesehatan Mental: Kecemasan, ketakutan, depresi ekstrem, insomnia (gangguan tidur), dan rasa marah yang berlebihan menjadi hal yang umum. Banyak orang dewasa mengalami kesulitan merawat diri mereka sendiri, yang semakin mempersulit mereka untuk memberikan dukungan emosional kepada anak-anak.

​Isolasi dan Ketidakberdayaan: Kisah-kisah individu menunjukkan isolasi diri dan perasaan tidak berdaya yang mendalam. Mereka yang kehilangan anggota keluarga inti sering kali menarik diri, kesulitan mengungkapkan perasaan, dan hanya merasakan beban berat di hati.

​Anak-Anak Sebagai Korban Paling Rentan: Generasi muda Gaza lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekerasan dan ketidakpastian. Mereka kehilangan akses pendidikan, kehilangan orang tua atau anggota tubuh, dan terpaksa mengungsi berkali-kali. Badan PBB (UNRWA) melaporkan bahwa hampir semua reaksi mental ini berakar dari trauma berkepanjangan.

Kehilangan Fisik dan Kehancuran Eksistensi

​Perubahan ini juga terlihat jelas dalam kondisi fisik dan infrastruktur kehidupan sehari-hari:

​1. Kehilangan Fisik dan Disabilitas

​Ribuan warga, termasuk anak-anak, menderita luka parah yang berujung pada amputasi dan disabilitas seumur hidup. Krisis layanan kesehatan yang ambruk, dengan sebagian besar rumah sakit hancur atau tidak berfungsi, membuat upaya penanganan medis sangat minim. Korban selamat harus menghadapi kenyataan hidup dengan keterbatasan fisik permanen di tengah lingkungan yang hancur.

​2. Pengungsian Massal dan Kehancuran Rumah

​Hampir seluruh populasi Gaza terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka berulang kali menjadi pengungsi internal, berpindah dari satu tempat penampungan ke tempat penampungan lain yang sering kali tidak aman dan penuh sesak. Kehilangan rumah bukan sekadar kehilangan bangunan, tetapi hilangnya rasa aman, privasi, dan stabilitas yang esensial bagi pemulihan mental. Lebih dari separuh infrastruktur Gaza, termasuk sekolah dan universitas, telah hancur total, memutus prospek masa depan seluruh generasi.

​3. Krisis Kemanusiaan yang Parah

​Perang telah mengubah masyarakat Gaza menjadi komunitas yang berjuang melawan kelaparan, kehausan, dan penyakit. Krisis air dan sanitasi yang parah, di mana sebagian besar penduduk bertahan hidup dengan air minum dan masak jauh di bawah standar darurat, menjadi perubahan yang mengancam eksistensi. Kelaparan telah dijadikan senjata perang, mengubah kondisi fisik warga yang semakin lemah dan rentan.

Bangkitnya Ketangguhan (Resiliensi) dan Solidaritas

​Namun, di tengah semua kehilangan dan patah hati, dua tahun perang ini juga menyoroti perubahan positif dalam bentuk ketangguhan kolektif (resiliensi) dan solidaritas:

​Adaptasi dan Kreativitas: Warga Gaza menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi yang mustahil. Mereka menemukan cara untuk mendapatkan makanan, membersihkan air, dan membangun tempat berlindung sementara di antara puing-puing, menunjukkan semangat hidup yang tak terpatahkan.

​Solidaritas Kuat: Keterbatasan ekstrem justru memperkuat ikatan sosial. Warga saling berbagi sumber daya yang langka, saling menjaga anak-anak yang menjadi yatim piatu, dan memberikan dukungan emosional satu sama lain, menjadi jangkar kemanusiaan di tengah badai.

Gaza yang Berbeda

​Dua tahun telah mengubah Jalur Gaza dari komunitas yang terbatas menjadi zona bencana kemanusiaan dan psikologis. Penduduknya kini hidup dengan luka yang tidak hanya terlihat di reruntuhan bangunan, tetapi juga terukir di dalam jiwa. Mereka adalah masyarakat yang terus berjuang untuk menavigasi kehidupan yang dipenuhi duka, trauma, dan ketidakpastian, namun di saat yang sama, mereka mengajarkan dunia arti sebenarnya dari ketahanan manusia dalam menghadapi penderitaan yang tak terbayangkan.

Reactions

Post a Comment

0 Comments