Bagi orang Indonesia, makan tanpa sambal rasanya seperti ada yang kurang. Kita sering menganggap cabai adalah tanaman asli nenek moyang kita. Namun, sejarah mengungkapkan fakta mengejutkan: Cabai bukanlah tanaman asli Nusantara.
Lalu, bagaimana si merah pedas ini bisa sampai ke meja makan kita? Jawabannya ada pada jejak pelaut Eropa, terutama bangsa Portugis.
Berasal dari Benua Amerika
Sebelum abad ke-16, penduduk Nusantara tidak mengenal cabai (Capsicum). Tanaman ini aslinya tumbuh di wilayah Amerika Tengah dan Amerika Selatan (seperti Meksiko dan Peru).
Ketika Christopher Columbus mendarat di Benua Amerika, ia membawa tanaman ini kembali ke Eropa, mengiranya sebagai jenis "lada" karena rasanya yang panas. Dari Eropa, para penjelajah membawanya dalam pelayaran lintas samudera.
Tiba Bersama Kapal Portugis
Cabai masuk ke Nusantara sekitar tahun 1500-an. Bangsa Portugis dan Spanyol-lah yang pertama kali memperkenalkannya ke Asia.
Jalur Perdagangan: Kapal-kapal Portugis membawa cabai dari Amerika ke pangkalan mereka di Goa (India), lalu masuk ke Malaka, dan akhirnya menyebar ke seluruh kepulauan Nusantara.
Mudah Beradaptasi: Karena iklim tropis Indonesia sangat mirip dengan tanah kelahiran cabai di Amerika Selatan, tanaman ini tumbuh subur dengan sangat cepat di sini.
Apa yang Dimakan Orang Nusantara Sebelum Ada Cabai?
Mungkin Anda bertanya-tanya, "Kalau tidak ada cabai, dulu orang kita makan pedas pakai apa?" Sebelum cabai datang, masyarakat Nusantara menggunakan sumber rasa pedas lain yang memang asli lokal, yaitu:
Cabai Jawa (Piper retrofractum): Bentuknya panjang dan unik, kini lebih sering digunakan sebagai jamu.
Lada (Merica): Memberikan sensasi hangat dan pedas yang berbeda.
Jahe dan Kencur: Digunakan untuk memberikan efek "gigitan" pada masakan.
Setelah cabai diperkenalkan oleh Portugis, masyarakat kita langsung jatuh cinta karena rasanya yang jauh lebih tajam dan warnanya yang menarik. Perlahan, cabai menggeser peran Cabai Jawa dalam masakan sehari-hari.
Kesimpulan: Akulturasi di Piring Makan
Cabai adalah bukti nyata bahwa kuliner Nusantara adalah hasil akulturasi budaya. Jejak Portugis di dapur kita bukan hanya soal sejarah kolonial, tapi juga soal bagaimana sebuah rasa dari belahan dunia lain bisa menyatu dan menjadi identitas tak terpisahkan dari lidah kita.
Tanpa pelayaran Portugis ratusan tahun lalu, mungkin hari ini kita tidak akan pernah mengenal nikmatnya Sambal Bawang atau Ayam Geprek.

0 Comments