SOFIA – Bulgaria kembali diguncang krisis politik hebat. Pada 11 Desember 2025, Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov secara resmi mengumumkan pengunduran diri pemerintahannya di hadapan Parlemen. Langkah ini diambil setelah gelombang demonstrasi besar-besaran yang melibatkan lebih dari 100.000 orang melumpuhkan ibu kota Sofia dan kota-kota besar lainnya.
Peristiwa ini menandai kemenangan politik besar pertama bagi Generasi Z di Eropa, yang menjadi motor utama penggerak aksi di jalanan maupun di media sosial.
1. Pemicu Utama: Kontroversi Anggaran 2026
Meskipun ketidakpuasan masyarakat sudah lama terpendam, "sumbu" ledakan protes ini adalah rencana Anggaran 2026 yang diusulkan pemerintah. Rencana tersebut mencakup:
•Kenaikan Pajak: Peningkatan beban pajak bagi sektor swasta dan kenaikan kontribusi jaminan sosial/pensiun.
•Ketidakadilan Anggaran: Penyaluran dana yang dianggap lebih banyak menguntungkan sektor negara dan elit, sementara rakyat kecil menghadapi beban ekonomi tinggi.
Meski pemerintah sempat menarik usulan anggaran tersebut pada 2 Desember untuk meredam kemarahan, massa menolak bubar dan justru memperluas tuntutan mereka menjadi pengunduran diri total pemerintah.
2. Korupsi yang Mengakar dan "State Capture"
Di balik masalah anggaran, para demonstran menyuarakan kejenuhan terhadap korupsi sistemik. Bulgaria sering dijuluki sebagai negara anggota Uni Eropa yang paling korup. Demonstran menuduh pemerintah dikendalikan oleh elit politik dan oligarki (sering disebut sebagai fenomena state capture), di mana institusi negara hanya melayani kepentingan kelompok tertentu.
3. Peran Vital Gen Z dan "Protest Pop Culture"
Pengamat politik menyebut aksi ini unik karena dominasi anak muda. Mereka menggunakan:
•Media Sosial: TikTok dan Instagram menjadi alat koordinasi cepat untuk memobilisasi massa.
•Budaya Pop: Munculnya lagu-lagu protes, meme, dan gaya aksi yang "carnivalesque" (seperti karnaval) namun tetap tegas, membuat gerakan ini sulit dibendung oleh narasi tradisional pemerintah.
4. Dampak dan Masa Depan Bulgaria
Runtuhnya pemerintahan Zhelyazkov membawa Bulgaria ke dalam ketidakpastian baru:
•Pemilu Kedelapan: Bulgaria berpotensi menghadapi pemilu legislatif ke-8 dalam waktu hanya lima tahun, menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas politik di sana.
•Transisi Mata Uang Euro: Krisis ini terjadi tepat sebelum Bulgaria dijadwalkan beralih ke mata uang Euro pada 1 Januari 2026. Meskipun proses teknis terus berjalan, ketidakstabilan politik dapat memengaruhi kepercayaan pasar.
Kesimpulan
Pengunduran diri Rosen Zhelyazkov dengan kutipan populernya, "Vox Populi, Vox Dei" (Suara Rakyat adalah Suara Tuhan), menunjukkan bahwa kekuatan massa—terutama generasi muda—kini menjadi faktor penentu yang tidak bisa lagi diabaikan oleh para elit politik di Balkan.

0 Comments