Berakhirnya New START (Strategic Arms Reduction Treaty) pada 5 Februari 2026 menandai berakhirnya era pengendalian senjata nuklir yang telah berlangsung selama lebih dari setengah abad. Untuk pertama kalinya sejak Perang Dingin, dua kekuatan nuklir terbesar dunia—Amerika Serikat dan Rusia—kini beroperasi tanpa batasan hukum internasional yang mengikat.
Berikut adalah poin-poin krusial yang perlu Anda ketahui mengenai situasi ini:
1. Apa Itu Perjanjian New START?
Ditandatangani pada tahun 2010 oleh Presiden Barack Obama dan Presiden Dmitry Medvedev, perjanjian ini adalah instrumen terakhir yang membatasi arsenal nuklir strategis kedua negara. Poin utama perjanjian ini meliputi:
Batas Hulu Ledak: Membatasi masing-masing negara maksimal 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan.
Sistem Peluncur: Membatasi jumlah rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik kapal selam (SLBM), dan pengebom berat hingga 700 unit.
Transparansi: Mewajibkan inspeksi di lapangan dan pertukaran data secara berkala untuk mencegah kecurigaan dan salah kalkulasi.
2. Mengapa Perjanjian Ini Berakhir?
Meskipun sempat diperpanjang pada tahun 2021, upaya untuk memperbarui atau mengganti perjanjian ini menemui jalan buntu karena beberapa alasan:
Ketegangan Geopolitik: Perang di Ukraina menyebabkan Rusia menangguhkan partisipasinya dalam inspeksi sejak 2023.
Tuntutan AS terhadap China: Pemerintahan Donald Trump bersikeras bahwa perjanjian baru harus melibatkan China, yang kapasitas nuklirnya terus meningkat. Namun, Beijing menolak mentah-mentah ide tersebut.
Ketidaksepakatan Teknis: Tawaran menit-menit terakhir dari Rusia untuk memperpanjang batas waktu selama satu tahun lagi ditolak oleh AS karena tidak adanya kesepakatan mengenai syarat-syarat baru.
3. Dampak Langsung bagi Keamanan Global
Dunia kini memasuki wilayah yang tidak dipetakan (uncharted territory). Konsekuensi utamanya meliputi:
Risiko Perlombaan Senjata: Tanpa batas formal, kedua negara memiliki kebebasan hukum untuk meningkatkan jumlah hulu ledak mereka. Hal ini memicu ketakutan akan perlombaan senjata nuklir "tiga arah" antara AS, Rusia, dan China.
Hilangnya Transparansi: Tanpa mekanisme inspeksi dan pertukaran data, intelijen militer kedua pihak akan lebih sulit memprediksi langkah lawan. Ketidaktahuan ini meningkatkan risiko serangan nuklir akibat salah paham.
Masa Kelam Diplomasi: Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut momen ini sebagai "masa kelam bagi stabilitas strategis," karena arsitektur keamanan internasional yang dibangun selama puluhan tahun kini runtuh.
Catatan Penting: Meskipun perjanjian telah berakhir, Rusia sempat memberikan sinyal bahwa mereka mungkin tetap mematuhi batasan jumlah secara sukarela untuk sementara waktu, asalkan Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Namun, komitmen ini bersifat tidak resmi dan bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika militer.

0 Comments